bidik-jurnalis.com, Sikka – Di tengah isolasi perairan saat menempuh perjalanan menggunakan KM Dharma Rucitra VII, seorang bidan muda, Theresa Arias Viviyanti, telah menunjukkan aksi kemanusiaan yang melampaui standar tugas profesinya. Menghadapi situasi darurat persalinan dengan risiko tinggi, Theresa berhasil menyelamatkan nyawa seorang ibu dan bayi perempuannya hanya dengan berbekal keberanian dan ketulusan hati.
Dalam kondisi darurat di mana kapal berada jauh dari fasilitas kesehatan dan akses komunikasi yang terbatas, Theresa berdiri sebagai garda terakhir. Menghadapi pasien dengan riwayat hipertensi 160 mmHg, ia mengambil keputusan krusial di tengah kepanikan penumpang. Dengan tangan yang terampil namun penuh ketegangan, ia berhasil membantu proses persalinan bayi Clarista Lucitra hingga tangisan pertama pecah di ruang medis kapal.
Bagi Theresa, yang baru saja menyelesaikan pendidikan profesinya pada awal Mei lalu, pilihan untuk bertindak adalah soal nyawa. “Mau tidak tolong kasihan, tapi kalau ditolong pun penuh risiko tinggi. Saya hanya pasrah. Saya melakukan ini murni karena kemanusiaan,” tuturnya saat menceritakan kembali momen tersebut di kediamannya di Waidoko, Kabupaten Sikka.

Aksi heroik Theresa bukan sekadar peristiwa viral di media sosial. Ini adalah representasi dari komitmen tinggi tenaga kesehatan Indonesia di medan tugas yang sulit. Publik kini menaruh harapan besar agar pemerintah, melalui kementerian atau lembaga terkait, memberikan apresiasi resmi atas dedikasi luar biasa yang ditunjukkan oleh Theresa.
Apresiasi dari pemerintah sangatlah krusial, bukan hanya untuk sang bidan secara pribadi, tetapi sebagai simbol bahwa negara hadir dan sangat menghargai setiap tetes keringat dan keberanian tenaga medis yang berjuang demi keselamatan warga negara, tanpa memandang tempat dan kondisi. Memberikan penghargaan atas tindakan heroik ini akan menjadi dorongan moral yang kuat bagi para tenaga medis muda lainnya di seluruh pelosok Indonesia.
Keberhasilan Theresa menyelamatkan dua nyawa di tengah samudra adalah pengingat akan pentingnya dedikasi di atas segalanya. Kisah ini tidak hanya tentang keberhasilan teknis medis, tetapi tentang hati nurani yang bekerja ketika fasilitas pendukung tidak ada.
Sudah saatnya aksi heroik seperti ini mendapatkan pengakuan yang setara. Kita menunggu langkah nyata pemerintah dalam memberikan apresiasi sebagai bentuk terima kasih bangsa kepada sosok yang telah membuktikan bahwa kemanusiaan adalah nilai tertinggi yang harus dijunjung tinggi.
Theresa Arias Viviyanti adalah seorang Bidan yang baru saja menyelesaikan Pendidikan Profesi Kebidanan di Universitas Kadiri. Aksi heroiknya di KM Dharma Rucitra VII menjadi bukti nyata integritas dan kompetensi tenaga kesehatan muda Indonesia dalam menghadapi situasi kedaruratan yang ekstrem.














