Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250 Example 728x250
DAERAHPENDIDIKANSikka

Menenun Asa di Jalan Heet Wolokoli: Kiprah Yanto De Flores Lawan Candu Gadget dengan Dongeng dan Tradisi

546
×

Menenun Asa di Jalan Heet Wolokoli: Kiprah Yanto De Flores Lawan Candu Gadget dengan Dongeng dan Tradisi

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

bidik-jurnalis.com, Sikka – Di sebuah sudut Jalan Heet Wolokoli, Kelurahan Kabor, aroma perubahan kini tercium lebih kuat daripada bau limbah yang dulunya mengepung wilayah tersebut. Di tangan dingin Yohanes Kia Nunang, atau yang akrab disapa Yanto De Flores, sebuah bekas tempat pembuangan sampah telah menjelma menjadi “rahim” bagi kecerdasan anak-anak Sikka melalui Pondok Baca Kampung Kabor.

Selama tujuh tahun, pria kelahiran Lembata ini mendedikasikan hidupnya untuk merawat nalar generasi muda di jantung Kabupaten Sikka. Di tengah gempuran era digital, Yanto memasang barikade tegas: Di Pondok Baca miliknya, gawai (handphone) adalah benda terlarang.

Yanto menyadari bahwa kecanduan digital mampu mengikis empati dan fokus anak-anak. Sebagai penawar, ia menghidupkan kembali permainan tradisional sebagai laboratorium sosial.

“Di sini, anak-anak kembali belajar kerja sama, sportivitas, dan kejujuran tanpa sekat layar. Kami ingin mereka tumbuh dengan menyentuh tanah dan memegang buku, bukan hanya mengusap layar,” tegas Yanto.

Langkah Yanto tidak hanya terpaku pada ubin Pondok Baca. Melalui Safari Literasi, ia menjangkau PAUD hingga Perguruan Tinggi di seluruh Sikka. Misinya melampaui sekadar membaca:

  • Mendongeng: Membawa imajinasi anak-anak melampaui batas geografis.

  • Merajut Kebangsaan: Di sekolah Katolik, ia membawakan renungan spiritual; di sekolah Islam, ia lantang bicara tentang Pancasila dan Toleransi.

  • Distribusi Ilmu: Membagikan buku secara gratis guna memastikan tidak ada anak Sikka yang “lapar” ilmu karena kendala biaya.

Keberhasilan gerakan Yanto De Flores tidak lepas dari konteks sosiokultural Kabupaten Sikka.

Kabupaten Sikka, dengan Maumere sebagai pusatnya, secara historis merupakan barometer pendidikan di Pulau Flores. Kehadiran Pondok Baca Kampung Kabor memperkuat identitas Sikka sebagai daerah yang memprioritaskan kualitas sumber daya manusia (SDM) di tengah tantangan zaman.

Kelurahan Kabor merupakan salah satu wilayah urban yang padat di Kecamatan Alok. Masalah limbah dan keterbatasan ruang bermain anak menjadi isu nyata. Transformasi bekas tempat sampah menjadi taman bacaan oleh Yanto adalah solusi mandiri terhadap masalah sanitasi dan kurangnya ruang edukasi publik di wilayah perkotaan Sikka.

Masyarakat Sikka dikenal dengan filosofi hidup yang harmonis. Namun, modernitas membawa ancaman terhadap permainan tradisional lokal. Gerakan Yanto dalam menghidupkan kembali permainan rakyat sejalan dengan upaya pelestarian budaya Sikka agar tidak lekang ditelan arus globalisasi digital.

Sikka memiliki komposisi masyarakat yang majemuk dengan penganut agama yang beragam. Kiprah Yanto yang masuk ke sekolah-sekolah lintas iman untuk menyuarakan Pancasila mempertegas posisi Kabupaten Sikka sebagai contoh nyata kerukunan di Nusa Tenggara Timur. Literasi di sini bukan hanya tentang membaca teks, tetapi membaca keberagaman.

Melalui TBM Pondok Baca Kampung Kabor, Yanto memikul misi melahirkan “Generasi Cakap NTT” dan “Generasi Gemilang Nian Tana Sikka”. Ini adalah cita-cita besar untuk mencetak anak-anak yang tidak hanya cerdas intelektual, tetapi juga santun dalam berbudaya dan kokoh dalam iman. (Ant)

0Shares
Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Example 1000x250 Example 1000x250