Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250 Example 728x250
OPINIPENDIDIKAN

Hardiknas 2026 di Ujung Timur, Merayakan Apa Jika Papan Tulis Masih Triplek dan Guru Masih Lapar?

0
×

Hardiknas 2026 di Ujung Timur, Merayakan Apa Jika Papan Tulis Masih Triplek dan Guru Masih Lapar?

Sebarkan artikel ini

Oleh: Ejhi Serlenso

Example 468x60

 

Bidik-jurnalis.com, Opini – 2 Mei 2026, Lapangan upacara di Jakarta akan penuh karangan bunga. Pidato Mendikdasmen akan bicara ā€œTransformasi Digitalā€ dan ā€œIndonesia Emas 2045ā€. Tagar #Hardiknas2026 akan trending.

Tapi 1.800 km ke timur, di SDI Compang Ngeles, Kecamatan Elar, dan SD lainnya di Manggarai Timur, bahkan NTT, Myscha dan anak-anak lainnya di daerah 3T, akan upacara di kelas yang atap dan dindingnya bocor. Papan tulisnya triplek bekas berlantai tanah. Jika hujan, mereka pindah-pindah kursi sambil memeluk buku agar tidak basah. Guru-guru di NTT, mungkin datang jalan kaki 1 jam dengan gaji Rp400 ribu yang dibayar 3 bulan sekali.

Ini wajah Hardiknas di daerah 3T: Terdepan, Terluar, Tertinggal. Kita merayakan Hari Pendidikan Nasional, tapi 1,7 juta anak di 3T merayakan ketabahan.

Surat Myscha yang sempat viral ke Presiden Prabowo bukan sekadar curhat. Ia adalah audit sosial atas janji kemerdekaan: ā€œmencerdaskan kehidupan bangsaā€. Dan audit itu hasilnya: merah.

Tantangan Infrastruktur: Kelas Bocor, Mimpi Tiris

Data: Kemendikbudristek 2025 mencatat 54% dari 42.183 ruang kelas SD di NTT rusak sedang-berat. Nasional, 203.882 ruang kelas butuh rehab. Di Manggarai Timur, 7 dari 10 SD di Elar, Kota Komba, dan Lamba Leda tidak punya perpustakaan.

Realita: SDI Compang Ngeles bukan kasus tunggal. Di daerah lainnya juga di NTT, siswa belajar di lantai tanah karena meja rusak. Mungkin masih ada juga 1 kelas diisi 3 rombel, gantian masuk pagi-siang-sore.

Pertanyaannya: APBN Pendidikan 2026 Rp708 triliun. Jika 10% saja untuk rehab 3T, 200 ribu kelas bisa kinclong dalam setahun. Tapi kenapa Myscha dan Myscha-myscha lainnya masih harus payungan di kelas? Karena uangnya tersedot ke rapat, perjalanan dinas, dan proyek mercusuar di Jawa. Anak 3T tidak butuh smart board. Mereka butuh atap yang tidak bocor, dinding nyaman, lantai bukan tanah, serta kursi dan meja rusak.

Tantangan Guru: Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, Tanpa Gaji, Tanpa Harapan

Data: 63% guru di NTT masih honorer. Gaji Rp300rb-Rp500rb. Untuk dapat SK PPPK, mereka harus ikut tes CAT di Ibukota Kabupaten, ongkos Rp800rb PP. Gagal, uang habis. Lulus, penempatan tidak jelas.

Realita: Masih ada guru di pelosok sudah 8 tahun honorer. Ia mengajar 6 kelas sendirian. Pagi jadi guru kelas 1, siang kelas 6. Malam hari koreksi tugas pakai senter karena belum ada listrik atau karna listrik sering padam. Kurikulum Merdeka menuntut ā€œguru penggerakā€, tapi negara menggaji mereka seperti ā€œguru pelan-pelan matiā€.

Ironinya: Kita kekurangan 1,3 juta guru nasional. Tapi di 3T, sarjana pendidikan milih jadi admin toko di kota karena gajinya 3x lipat dari guru honorer. Kita tidak kekurangan orang pintar. Kita kekurangan negara yang mau bayar orang pintar untuk tinggal di pelosok.

Tantangan Akses dan Biaya: Sekolah Gratis, Tapi Tidak Bebas Biaya

Data: Meskipun BOS ada, biaya ā€œsilumanā€ tetap hidup. Uang LKS Rp150rb, uang seragam Rp300rb, uang perpisahan Rp200rb. Bagi seorang buruh tani di pelosok dengan penghasilan Rp10.800/hari, itu setara 65 hari kerja.

Realita: Jarak SMP terdekat dari Kampung 9 km. Tidak ada angkot. Opsi: kost Rp500rb/bulan atau anak putus sekolah bantu kebun. Hasilnya? APK SMP Matim 2025 hanya 78,3%, jauh di bawah nasional 91,2%.

Artinya: Pasal 31 UUD 1945 ā€œsetiap warga berhak dapat pendidikanā€ kalah dengan Pasal 1 hukum rimba: ā€œyang tidak punya uang, tidak sekolahā€.

Tantangan Kurikulum: Mengejar PISA, Lupa Kebutuhan Desa

Data: Asesmen Nasional 2024: 55% siswa SD di NTT belum cakap literasi, 62% belum cakap numerasi. Tapi target kita PISA 2025 naik 20 poin.

Realita: Anak dipelosok misalnya, diajari nama-nama planet, tapi tidak diajari cara stek vanili yang harga jualnya Rp500rb/kg kering. Diajari coding, tapi di kampungnya sinyal E. Lulus SMA, bingung mau kerja apa. Balik ke kebun, malu karena dianggap ā€œgagal jadi orang kotaā€.

Pendidikan 3T tidak hanya butuh seragam. Butuh relevan.Kurikulum harus bisa jawab: ā€œKalau saya tamat SD di daerah 3T, skill apa yang bikin saya bisa hidup layak tanpa harus merantau?ā€ Jika tidak, sekolah hanya jadi pabrik penghasil pengangguran berijazah.

Tantangan Gizi dan Stunting: Otak Cerdas Butuh Perut Kenyang

Data: Prevalensi stunting NTT 2024: 35,3%. Manggarai Timur: 33,1%. 1 dari 3 anak Matim dan daerah-daerah lainnya bertubuh pendek karena gizi buruk.

Realita: Program MBG – Makan Bergizi Gratis sudah jalan. Tapi di SDI Compang Ngeles, 1 porsi Rp10.000 isinya nasi, tahu, sayur bening. Telur 2x seminggu. Susu? Tidak ada. Anak datang sekolah lapar, pulang tetap lapar.Bagaimana otaknya mau cerdas kalau sel otaknya kekurangan protein?

Pendidikan tidak bisa dipisahkan dari piring. Bodoh jika kita bangun ruang kelas baru tapi membiarkan anaknya busung lapar.

7 Desakan Hardiknas 2026 untuk Presiden Prabowo, Pemda Matim Pemprov NTT

Untuk Presiden Prabowo:
1.Inpres Darurat 100.000 Kelas 3T.Setop bangun kantor baru. Alihkan Rp20 triliun untuk rehab total sekolah bocor di 2026. Libatkan TNI/Zeni. Jika IKN bisa 2 tahun, kelas bocor juga bisa.
2. Gaji Guru Honorer 3T Setara UMP + Insentif 100%. Angkat semua guru honorer 3T jadi PPPK tanpa tes, cukup verifikasi pengabdian >3 tahun. Negara utang budi pada semua guru dengan honor rendah di daerah 3T.
3.BOS Kinerja 3T. Tambah Rp1 juta/siswa/tahun khusus 3T. Potong birokrasi: transfer langsung ke rekening sekolah, tanpa lewat dinas.

Untuk Pemda Manggarai Timur dan Pemprov NTT:

4. Gerakan “Desa Bapak Asuh Sekolah”. 1 Desa + 1 Perusahaan + 1 OPD wajib angkat 1 SD. Dana Desa 10% untuk rehab. Jangan tunggu Jakarta. Myscha dan anak lainnya tidak bisa tunda pintar.
5. Kurikulum Muatan Lokal ā€œNTT Bertahan dan Bertaniā€.Wajibkan SD-SMP ajar kopi, kemiri, tenun, konservasi. Lulusan harus bisa jadi petani milenial, bukan TKI.
6. Bus Sekolah dan Asrama Desa. APBD 2026 wajibkan 10 unit bus untuk anak SMP/SMA Elar, Elar Selatan, Kota Komba, Lamba Leda dan juga daerah-daerah lainnya di NTT untuk Memutus rantai putus sekolah karena jarak.

Untuk Kita Semua:

7. Jangan Diam. Viralkan foto kelas bocor dan persoalan lainnya. Tag @prabowo, @kemdikbud. Karena hari ini, suara medsos lebih didengar dari proposal Musrenbang.

Hardiknas Bukan Upacara, Tapi Alarm

Ki Hajar Dewantara tidak mendirikan Taman Siswa untuk upacara. Ia mendirikan sekolah untuk melawan kebodohan dan kemiskinan.

Surat Myscha adalah Taman Siswa versi 2026.Ia polos, jujur, dan menampar: ā€œIndonesia Emas tidak cuma dibangun di IKN, Pak. Tapi juga di kelas yang lantainya tanah.ā€

Hardiknas 2026 harus jadi tahun terakhir kita merayakan dengan air mata. Tahun depan, Myscha harus bisa nulis surat baru: ā€œPak Presiden, terima kasih. Atap sekolahku sudah tidak bocor. Sekarang giliran saya yang perbaiki Indonesia.ā€

Jika tidak, maka upacara 2 Mei hanya jadi ritual kemunafikan tahunan. Dan kita semua, dari Presiden sampai netizen, adalah pesertanya.

0Shares
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Example 1000x250 Example 1000x250