Bidik-jurnalis.com, Washington DC — Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara tegas menuntut “penyerahan tanpa syarat” dari Iran di tengah berlanjutnya serangan militer gabungan AS dan Israel yang kini hampir memasuki minggu kedua. Melalui platform Truth Social, Trump menyatakan tidak akan ada kesepakatan damai sebelum tuntutan tersebut dipenuhi. Namun, ia menjanjikan masa depan cerah bagi Iran, dengan klaim akan membuat negara tersebut “secara ekonomi lebih besar, lebih baik, dan lebih kuat dari sebelumnya” setelah terpilihnya kepemimpinan baru yang dianggap “layak” oleh pihak Washington.
Meski serangan terus menggempur Teheran, struktur kepemimpinan Iran masih belum jelas pasca-tewasnya Pemimpin Agung Ali Khamenei satu minggu lalu.
Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengonfirmasi bahwa operasi militer ini diperkirakan akan berlangsung selama empat hingga enam minggu dengan target utama menghancurkan kekuatan angkatan laut Iran. Trump sendiri secara eksplisit menolak kemungkinan Mojtaba Khamenei (putra Ali Khamenei) sebagai pengganti, dan mengisyaratkan akan berperan aktif dalam menentukan pemimpin Iran berikutnya, serupa dengan intervensi AS terhadap pemerintahan Nicolás Maduro di Venezuela awal tahun ini.

Eskalasi Regional dan Keterlibatan Rusia
Konflik ini kini meluas ke seluruh Timur Tengah. Serangan balasan dari proksi Iran, seperti Hezbollah, telah memicu serangan udara Israel ke Lebanon, termasuk ledakan besar di Beirut pada hari Jumat. Sementara itu, pangkalan militer AS di Qatar, Bahrain, Yordania, hingga pangkalan Inggris di Siprus dilaporkan menjadi sasaran serangan drone dan rudal sebagai bentuk retaliasi dari pihak Iran dan sekutunya.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik semakin memanas setelah muncul laporan bahwa Rusia memberikan data intelijen mengenai posisi kapal perang dan pesawat AS kepada Teheran. Meski demikian, pihak Gedung Putih meremehkan bantuan tersebut dan menyatakan hal itu tidak memberikan dampak signifikan di lapangan.
Presiden Rusia Vladimir Putin sendiri dikabarkan telah berkomunikasi dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian untuk menyampaikan belasungkawa atas tewasnya Khamenei, sembari mendesak segera ditemukannya solusi diplomatik untuk menghentikan peperangan. (Ant)


















