bidik-jurnalis.com, Makassar – Menanggapi pelaksanaan workshop tersebut, Verifikator SINTA STIKES Fatima Parepare, Antonius Primus, menegaskan pentingnya peran verifikator dalam membangun ekosistem riset perguruan tinggi yang akuntabel dan bereputasi.
“Tugas verifikator SINTA bukan sekadar urusan teknis menginput atau mevalidasi data publikasi dosen. Lebih dari itu, verifikator memegang peranan kunci dalam mengawal rekam jejak akademik institusi agar senantiasa valid, terstruktur, dan mencerminkan kapasitas riset yang sesungguhnya di STIKES Fatima Parepare,” ujar Antonius Primus di sela-sela kegiatan.
Ia menambahkan bahwa STIKES Fatima Parepare berkomitmen penuh untuk mendorong para dosen tidak hanya menghasilkan karya ilmiah, tetapi juga memastikan karya tersebut terindeks dengan baik pada jurnal-jurnal nasional bereputasi (SINTA 1–6) maupun internasional.
Workshop ini dibuka secara resmi oleh Kepala LLDIKTI Wilayah IX, Dr. Andi Lukman, M.Si. Dalam sambutannya, Andi Lukman menekankan bahwa SINTA merupakan instrumen nasional strategis untuk mengukur kinerja publikasi ilmiah, keberadaan jurnal, rekam jejak peneliti, serta kualitas institusi pendidikan tinggi.
“SINTA merupakan instrumen nasional yang mengukur kinerja publikasi ilmiah, jurnal, peneliti, dan institusi, sekaligus menjadi salah satu indikator penting dalam peningkatan mutu pendidikan tinggi dan budaya riset di Indonesia,” ungkap Andi Lukman.
Andi Lukman juga mengingatkan bahwa publikasi ilmiah tidak boleh dipandang sekadar sebagai penggugur kewajiban administratif, melainkan harus diresapi sebagai bagian dari budaya akademik. Perguruan tinggi yang unggul ditandai oleh kuatnya tradisi meneliti, menulis, memublikasikan riset, hingga menciptakan inovasi yang bermanfaat langsung bagi masyarakat luas (Perguruan Tinggi Berdampak).
Ia meminta seluruh peserta, termasuk para verifikator SINTA, agar menjadi agen perubahan sepulang dari workshop. Peserta diminta tidak hanya memahami aspek teknis SINTA, tetapi juga mampu merumuskan strategi peningkatan reputasi akademik di kampus masing-masing.
Merespons arahan Kepala LLDIKTI Wilayah IX tersebut, Antonius Primus menyatakan siap mentransfer pengetahuan dan menyusun langkah-langkah strategis bagi seluruh dosen di lingkungan STIKES Fatima Parepare.
“Arahan Bapak Kepala LLDIKTI IX mengenai ‘Perguruan Tinggi Berdampak’ sangat relevan dengan visi STIKES Fatima Parepare. Penelitian di bidang kesehatan, keperawatan, dan kebidanan yang dilakukan dosen-dosen kami harus bermuara pada solusi praktis yang dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat, khususnya di Kota Parepare dan sekitarnya,” jelas Antonius.
Lebih lanjut, Antonius memaparkan rencana tindak lanjut internal yang akan dilaksanakannya:
Pendampingan & Diseminasi Internal: Mengadakan sesi konsolidasi dan sosialisasi khusus bagi seluruh dosen STIKES Fatima Parepare guna menyelaraskan pemahaman mengenai pengelolaan akun SINTA dan pemutakhiran portofolio riset.
Penguatan Validasi Data: Meningkatkan ketelitian dan kecepatan verifikasi karya ilmiah, Hak Kekayaan Intelektual (HKI), serta riwayat penelitian dosen secara berkala.
Peningkatan Kualitas Luaran Riset: Mendorong kolaborasi riset lintas disiplin dan memfasilitasi penulisan artikel ilmiah yang membidik jurnal terindeks bereputasi serta memiliki tingkat sitasi tinggi.
“Kami optimis, melalui penguatan peran verifikator dan sinergi bersama seluruh civitas akademika, STIKES Fatima Parepare mampu terus meningkatkan peringkat kelembagaan di SINTA sekaligus melahirkan inovasi kesehatan yang bermanfaat nyata,” tutup Antonius Primus.














