bidik-jurnalis.com, Maros — Sebagai langkah nyata mendukung percepatan penurunan angka stunting pada anak usia dini, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Hasanuddin (Unhas) Gelombang 116 menggelar kegiatan edukasi gizi dan demonstrasi olahan pangan berbasis potensi lokal di Dusun Makkio Baji, Desa Bontomanai, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, Selasa (21/7/2026).
Program ini mengusung fokus pada pemanfaatan ikan nila—salah satu komoditas perikanan unggulan lokal—sebagai bahan baku utama Makanan Pendamping ASI (MPASI) kaya protein dalam bentuk bakso ikan.

Inisiator program kerja KKN Tematik ini, Ayatul Khusna Karim dari Program Studi Pemanfaatan Sumber Daya Perikanan Unhas, menjelaskan bahwa intervensi gizi pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) sangat krusial. Namun, belum semua masyarakat memahami variasi pengolahan hasil perikanan yang menarik dan aman untuk bayi maupun balita.
“Ikan nila merupakan sumber protein hewani yang melimpah di daerah kita, tetapi banyak ibu rumah tangga yang belum familiar mengolahnya menjadi menu MPASI yang disukai anak. Melalui kegiatan ini, kami ingin memberikan solusi praktis, sehat, dan ekonomis dengan memanfaatkan potensi perikanan lokal untuk menekan angka stunting,” ujar Ayatul.
Kegiatan yang dihadiri oleh para ibu pemilik balita ini dikemas secara interaktif melalui dua tahapan utama:
-
Edukasi Pengetahuan Gizi: Penyampaian materi mengenai pentingnya pemenuhan gizi seimbang pada masa MPASI serta manfaat kandungan gizi ikan nila bagi pemeliharaan tumbuh kembang fisik dan kecerdasan anak.
-
Demonstrasi Masak (Live Cooking): Pelatihan langsung proses pembuatan bakso ikan nila, mulai dari pemilihan ikan segar, pemisahan duri (fillet), teknik pengolahan higienis, hingga penyajian menu yang aman disesuaikan dengan tekstur kebutuhan usia anak.
Melalui sinergi ini, para mahasiswa KKN Unhas Gelombang 116 berharap tingkat kesadaran gizi masyarakat Desa Bontomanai dan Kecamatan Tompobulu semakin meningkat, sehingga angka prevalensi stunting di wilayah Kabupaten Maros dapat ditekan secara berkelanjutan.














