Bidik-jurnalis.com, Sikka – Anggota DPRD Kabupaten Sikka, Fransiskus Stefanus Say dari Partai Gerindra mendesak Pemerintah Kabupaten Sikka segera mengalihkan status SDI Bora Blupur dari status sekolah kelas jarak jauh menjadi sekolah defenitif.
Desakan tersebut disampaikan oleh Stef Say yang biasa disapa di sela-sela Rapat Konsolidasi dan Pendidikan Politik Partai Gerindra di LK3I Maumere pada Sabtu (5/9/2026).
Menurutnya, seluruh persyaratan administrasi dinilai sudah terpenuhi. Lahan sekolah tersebut juga dipastikan tidak bermasalah dan jumlah siswa cukup menjanjikan.
“Penetapan status defenitif kini lebih membutuhkan keberpihakan dan kebijakan pemerintah. Tidak ada yang salah disana, tinggal kebijakan kita saja. Mau atau tidak, ” tegas Stef Say yang juga adalah Ketua Fraksi Partai Gerindra.
Ia meminta pemerintah daerah mendefinitifkan status sekolah tersebut pada tahun depan, mengingat seluruh dokumen persyaratan telah terpenuhi.
Sebagai bentuk perhatian juga ditunjukkan Stef Say dengan membantu pembangunan satu ruangan sekolah menggunakan dana pribadi.
SDI Bora Blupur terletak di kampung Bora Blupur, Desa Bura Bekor, Kecamatan Bola, Kabupaten Sikka merupakan sekolah kelas jarak jauh dari sekolah induk SDI Klotong, Desa Bura Bekor.
Saat ini SDI Bora Blupur melayani sekitar 32 siswa yang dibantu oleh delapan tenaga pendidik terdiri atas guru PPPK, honorer BOS serta honorer Komite.
Terkait permintaan mendefinitifkan sekolah Bora Blupur, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (PKO) Kabupaten Sikka, Patrisius Pederiko menjelaskan bahwa pihaknya saat ini sedang melakukan validasi data kebencanaan.
Setelah validasi selesai, Dinas PKO akan langsung turun ke lapangan.
“Kami akan langsung mendatangi sekolah tersebut untuk memastikan seluruh persyaratan administrasi yang disampaikan oleh dewan. Mulai dari status lahan, potensi anak didik, jumlah penduduk hingga jumlah fasilitas pendidikan tingkat TK dan PAUD. Semuanya harus kami pastikan dulu, ” tegas Patrisius kepada media ini, Senin (7/9/2026) di Posko BPBD.
Romana Riong dan Yovita, guru honorer di SDI Bora Blupur mengaku harus berjalan kaki sejauh empat kilo meter lebih menuju sekolah induk SDI Klotong jika ada rapat guru atau keperluan lain.
“Kami harus hati-hati karena jalannya menurun, mendaki, dan banyak batu kapur. Kalau tidak hati-hati bisa langsung tergelincir, ” ujar mereka.
Romana sudah mengabdi selama tujuh tahun, sementara Yovita baru tiga tahun. Mereka juga menerima honor komite Rp 300 ribu per bulan.
“Itu pun baru dibayar satu kali dalam empat atau lima bulan, ” kata mereka.
Honor tersebut bersumber dari sumbangan komite. Sementara untuk insentif daerah, mereka mengaku baru mengurusnya.
“Dengan segala keterbatasan dan kekurangan, digaji seperti itu sangat memprihatinkan. Namun, kami tetap semangat mengabdi demi masa depan anak-anak Bora Blupur.
“Harapannya kesejahteraan kami para guru honorer disini diperhatikan, begitu pula dengan fasilitas bagi para siswa, ” pungkas mereka.














