Bidik-jurnalis.com, Sikka – Warga Kampung Bora Blupur, Desa Bura Bekor, Kecamatan Bola, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga kini masih terisolir akibat akses jalan lumpuh total pascagempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores pada Sabtu (15/8/2026).
Wilayah Bora blupur merupakan daerah terisolir, sehingga pemenuhan kebutuhan pokok sulit dijangkau warga. Terjadinya bencana ini membuat seluruh akses transportasi terputus sementara waktu, sementara warga masih diliputi rasa trauma mendalam.
Warga berharap besar kepada Pemerintah Desa hingga tingkat yang lebih tinggi agar uluran tangan dan bantuan logistik segera menjangkau wilayah mereka.
Ketua RT setempat, Florianus Baba, menyampaikan harapan agar warga di wilayah terisolir ini mendapatkan perhatian serta distribusi bantuan bencana yang merata.
“Karena kami sekarang tidak bisa beraktivitas. Kita semua tahu daerah ini rawan longsor karena berada di daerah ketinggian. Ada keretakan tanah di tiga titik di area pemukiman warga di RT 014, sehingga kami sangat membutuhkan mitigasi bencana dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah, ” ujar Florianus.
Adapun wilayah yang terdampak isolasi ini mencakup RT 014, RT 015, dan RT 016 di Dusun Klotong, Desa Bura Bekor yang ketiganya berada di kawasan Bora Blupur.
Penjabat Kepala Desa Bura Bekor, Antonius Moa pada Rabu (19/8/2026) bersama Kepala Seksi Kesejahteraan dan Kepala Dusun menulusuri wilayah tersebut.
Hasil monitoring menunjukkan ada tujuh rumah yang sangat terdampak, dengan dua diantaranya mengalami keretakan parah yang dapat mengancam jiwa jika tidak tidak segera ditangani.
“Saya dan warga akhirnya bersepakat merobohkan kedua rumah itu, untuk mengantisipasi gempa bumi susulan. Kami sudah mendirikan tiga posko siaga untuk tiga RT, ” ujar Antonius.
Adapun rincian data penduduk dan kebutuhan logistik per posko, Posko 1 (RT 014), 27 Kepala Keluarga (KK), 88 jiwa (44 laki-laki, 44 perempuan), 7 bayi/balita.
Posko 2 (RT 015), 20 KK, 65 jiwa (32 laki-laki, 33 perempuan), 2 bayi/balita. Posko 3 (RT 016), 15 KK, 48 jiwa (23 laki-laki, 25 perempuan), 5 bayi/balita.
Adapun bantuan yang mendesak dibutuhkan saat ini meliputi, air minum bersih (6 fiber ukuran 1.200), sembako, perlengkapan mandi cuci, tiga buah terpal, tiga buah profil tank serta minyak tanah.
Persediaan air di bak penampungan air hujan (PAH) milik warga Kampung Bora Blupur menipis. Warga terpaksa membeli air dari luar seharga Rp. 200.000 per 1.100 liter.
Ditengah situasi gempa bumi susulan masih terjadi, warga memilih tidak beraktivitas namun tetap harus menanggung beban mahalnya harga air.
Untuk menuju ke lokasi mata air terdekat di wilayah desa tetangga, yakni desa Blatatatin, Kecamatan Kangae, warga harus berjalan kaki sejauh tiga kilometer.














